Kegiatan


Pesan Pluralisme Bangka Belitung untuk Indonesia

TAK banyak yang tahu tentang Bangka Belitung, selain timah dan keindahan panorama pantainya. Tapi, bagi sebagian orang yang pernah menetap di Bangka Belitung akan mengagumi tingginya rasa toleransi beragama di provinsi kepulauan tersebut. Dimana 30 persen penduduknya merupakan warga keturunan Tionghoa.

KEBERSAMAAN dan kerukunan umat beragama di Bangka Belitung ini diketahui memang sudah terbentuk lama. Bahkan disebutkan Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung, Akhmad Elvian, sudah terjalin sejak awal abad 18 Masehi.

Dikatakan Ahkmad Elvian, wujud sikap rukun dan kebersamaan masyarakat di Bangka Belitung bukan dalam tataran ucapan saja tapi implementasinya tampak dalam kehidupan kemasyarakatan. Misalnya sikap saling kunjung masyarakat saat perayaan Hari Raya Imlek, Idul Fitri dan tahun baru.

Hidup berdampingan ini contohnya dapat disaksikan dalam film berjudul Laskar Pelangi, film garapan Riri Riza pada tahun 2008 yang diadaptasi dari novel karya Andrea Hirata. Menceritakan 10 anak dari sekolah kecil di Belitung. Adalah Akiong anak keturunan Tionghoa, salah satu dari 10 anak yang bersahabat itu.

Lebih dari persahabatan, wujud pluralisme di Bangka Belitung ini juga dapat dilihat dari bangunan tempat beribadahnya yang saling berdekatan. Bahkan pula ada juga tempat peristirahatan terakhir yang berselebahan. Tempat beribadah dua agama itu juga kerab melakukan kegiatan bakti sosial yang mengundang masyarakatnya.

Di Pangkalpinang, ibukota provinsi ada satu kawasan dengan tiga tempat ibadah yang saling berdampingan. Terletak di kawasan Tanjung Bunga, daerah perbukitan yang bersebelahan dengan objek wisata pantai Pasir Padi.

Tiga rumah ibadah Kelenteng Sen Mu Miau, Pura Jagatnatha Surya Kencana dan Vihara. Sedangkan yang belum dibangun ada beberapa rumah ibadah seperti Masjid dan Gereja. Di Muntok, Kabupaten Bangka Barat ada sarana ibadah yang dibangun masyarakat bersebelahan seperti Masjid Jamik dan Kelenteng Kung Fuk Miaw.

Kemudian di Pangkalpinang, terdapat Masjid At Taqwa yang bersebelahan dengan Kelenteng Fuk Tet Che dan dulunya Kelenteng Kwan Tie Miaw Pangkalpinang juga bersebelahan dengan Kapel Agama Katolik di dekat Pasar.

Saking kentalnya toleransi beragama dalam kehidupan masyarakat Bangka Belitung, keluar istilah “Tong Ngin Fan Ngin Jit Jong” yang artinya kurang lebih “Cina, Melayu sama saja”. Istilah ini pun tidak asing bagi masyarakat di Bangka Belitung. Frasa itu seakan menggambarkan tegaknya Pancasila dan kebersamaan di daerah ini.

“Istilah lokal itu terus tumbuh dan berkembang sehingga tidak ada pengotak-ngotakan antara etnis Tionghoa dan Melayu. Mereka bersatu, hidup rukun dalam perbedaan seperti yang terkandung dalam sila kesatu Pancasila. Cermin eratnya kebersamaan kendati beda agama suku dan ras, sebut anggota DPD RI Bambang Patijaya.

Kehidupan harmonis antar beragama ini pun telah menciptakan stuasi kondusif sebuah daerah. Demikian diakui Walikota Pangkalpinang, Maulan Aklil. Dua tahun kepemimpinan sejak 2018, sampai hari ini dirinya rasa Kota Pangkalpinang kondusif dan aman.

“Tidak ada konflik suku agama antar ras dan semua golongan, tidak ada teroris di sini boleh dikatakan yang benar-benar kejadian kelihatan,” ungkap Maulan Aklil.

Menjaga kerukunan beragama dengan toleransi ini pun tampak sangat penting mencegah pertikaian, apalagi ke radikalisme dan terorisme. Di Bangka Belitung sendiri bukannya daerah terbebas dari bentuk tindakan demikian.

Dari catatan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Bangka Belitung yang dibentuk Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), potensi aksi radikalisme dan terorisme di Bangka Belitung mengalami penurunan pada tahun 2020.

“Menurut Survei kami (FKPT Babel-red) berdasarkan akses literasi digital tahun 2020 pada rentan usia 18 sampai 60 tahun, potensi radikalisme mengalami penurunan menjadi 12 persen di Bangka Belitung,” jelas Kabid Media Massa Hukum dan Humas FKPT Bangka Belitung, Faizal pada Talkshow “Ngobrol Pintar Cara Orang Indonesia (Ngopi Coi) di Hotel Fox Harris Pangkalpinang, 9 November 2020.

Di sisi lain, diungkapkan BNPT oleh Kasubdit Pengawasan Moch. Chairil Anwar, S.H, bahwa penggunaan Medsos yang tinggi merupakan tantangan karena menjadi media efektif penyebaran konten radikal. Tetapi menjadi peluang emas untuk intensifikasi penyebaran konten kontra-radikal.

Dan hasil Survey Nasional tentang Daya Tangkal Masyarakat terhadap Radikalisme dan Terorisme yang dilaksanakan oleh BNPT tahun 2019, Penggunaan Medsos dalam mencari informasi mengenai agama termasuk TINGGI (Skor 39,89) dalam internalisasi kearifan lokal termasuk pemahaman agama.

Data penanganan konten radikalisme dan terorisme dari Kemenkominfo tahun 2017 sampai dengan Maret 2019 sudah berjumlah 13.032 konten. Sehingga aksi-aksi terorisme masih menjadi ancaman nyata bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semoga saja wujud pluralisme dan kerukunan masyarakat di Bangka Belitung menjadi pesan untuk Indonesia. Tolak radikalisme, jangan berikan ruang bagi teroris di Negeri tercinta ini.

Penulis : —Muhammad Julian Amri, Babel Pos—

(Tulisan ini diikutsertakan pada lomba karya jurnalistik BNPT 2020)