Kegiatan


Keakraban Sosial dari Jelitik untuk Perekat NKRI

BANYAK cara bisa dilakukan anak bangsa untuk merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Seperti yang dilakukan Hermanto Wijaya. Bentuk kecintaan pria keturunan Tionghoa ini kepada Indonesia diwujudkan dengan mendirikan Taman Bunga Teratai Dewi Kuan Yin, salah satu simbol kemajemukan di Bangka Belitung.

 

SIANG itu tampak teduh. Hampir tak ada sinar matahari. Padahal biasanya bulan Agustus seperti sekarang sedang puncaknya musim panas di Bangka.

Meski teduh, tak banyak pengunjung yang datang ke tempat ibadah sekaligus wisata di Kelurahan Jelitik, Sungailiat, Bangka itu. Hanya terlihat dua rombongan pengunjung yang berkeliling di areal sekitar 2 hektar. Sepertinya pandemi Covid-19 masih menghantui calon wisatawan untuk datang.

Lokasi Taman Bunga Teratai Dewi Kuan Yin berada di pinggiran Kota Sungailiat, tepatnya di Lingkungan Jelitik, Kelurahan Jelitik, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka. Mengunjunginya dari pusat kota bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor dalam waktu 10 menit, melewati sekitar 8 kilometer jalan aspal perkampungan penduduk. Kanan kiri jalan selebar 4 meter masih terlihat banyak hutan kecil yang menyela perumahan warga.

Tiba di lokasi, pandangan pengunjung disambut bangunan mushola bercat hijau. Hanya berjarak 20 meter di sebelahnya terdapat bangunan gereja berwarna kuning. Lalu di tengah tampak kuil kemerahan. Tiga tempat ibadah, umat Islam, Kristen dan Konghucu itu berdiri berdekatan dalam areal Taman Bunga Teratai Dewi Kuan Yin. Di sekelilingnya tampak berbagai tanaman buah. Ada kurma, durian, mangga, rambutan, lengkeng, jambu dan lainnya. Sementara di bagian belakang ada beberapa kolam pemandian yang ditumbuhi bunga Teratai.

Taman Bunga Teratai Dewi Kuan Yin mulai didirikan Hermanto Wijaya tahun 2003. Bertepatan dengan hari Valentine 14 Februari. “Tapi saat itu saya tidak berpikir kalau 14 Februari itu hari Valentine, itu hari kasih sayang. Baru tahu belakangan setelah akan diresmikan,” kata Hermanto Wijaya yang juga menetap di komplek Dewi Kuan Yin.

Sekitar setengah tahun proses pembangunan, pada 17 Juli 2003 komplek Taman Bunga Teratai selesai dikerjakan dan diresmikan Bupati Bangka saat itu, Eko Maulana Ali.

Pria 63 tahun bernama Tionghoa Fee Shiung ini mendirikan Taman Bunga Teratai karena intuisi masa kecilnya di Jakarta. Saat itu usianya baru 13 tahun. Ia seperti ditunjukkan tiga tempat ibadah, masjid, kuil dan gereja. Benaknya bertanya apa maksud itu. Apalagi ia bukan siapa-siapa.

“Saya berpikir apakah mungkin saya anak orang miskin, yang ditinggal ibu meninggal dunia sejak kecil bisa membangun tiga tempat ibadah ini,” ujarnya bertanya.

 

“Tapi dalam Islam itu ada ‘kun fayakun’, kalau Allah menghendaki apapun bisa terjadi. Umur 43 tahun saya seperti diminta yang di Atas untuk mulai membangun tiga tempat ibadah ini,” kisah pria kelahiran Jakarta ini.

Dengan berbagai keterbatasan ia pun mulai membangun. Lokasi yang dipilihnya di ujung kampung Jelitik. Jauh dari tanah kelahirannya. Saat itu Jelitik masih sepi. Sekelilingnya masih hutan dengan jalan belum diaspal.

Bangunan pertama yang didirikan adalah Kuil Dewi Kuan Yin. Kemudian dilanjutkan pembangunan Mushola Baiturrahman dan terakhir Gereja Kasih Bunda. Semua secara mandiri. “Warnanya merah, kuning, hijau. Merah melambangkan Konghucu, Hindu, Budha. Kuning gereja, dan hijau itu Islam. Ini untuk mengakrabkan,” jelasnya.

Berjalannya waktu, keberadaan Taman Bunga Teratai terdengar kemana-mana. Pengunjung pun berdatangan. Tak hanya dari sekitar pulau Bangka, hampir semua daerah di Indonesia pernah mengunjunginya. Bahkan tercatat ada kunjungan tamu dari 27 negara. Mereka kemudian diminta pengelola meninggalkan atau mengirimkan bendera negara asal masing-masing sebagai kenangan kunjungan. Bendera berbagai negara itu akan dipasang saat ada kegiatan besar di Taman Bunga Teratai Dewi Kuan Yin. Seringkali juga rombongan pelajar datang untuk mengerjakan tugas sekolah. Mereka membuat tulisan, foto atau video tentang keberagaman.

Kini setelah 17 tahun berdiri, Hermanto bisa tersenyum bahagia, karena selain sebagai tempat wisata religi, komplek Taman Bunga Teratai Dewi Kuan Yin juga menjadi tempat edukasi pelajar dan simbol keakraban sosial masyarakat Indonesia, khususnya Bangka yang majemuk.

“Ini menciptakan keakraban sosial di masyarakat, pengunjung dari berbagai latar belakang bisa datang belajar, berwisata dan beribadah dengan akrab,” tuturnya.

Para pengunjung kata Hermanto Wijaya, mengaku merasa damai. Mereka merasa seperti berada di Indonesia dalam skala yang lebih kecil. “Semacam miniatur Indonesia, bisa bertemu dengan berbagai orang dalam suasana rukun damai. Mereka senang seperti ini, jadi kalau kesini tidak usah lagi bicara kamu latar belakang apa, semuanya satu Indonesia,” ujarnya.

Keberadaan Taman Bunga Teratai Dewi Kuan Yin pun mendapat apresiasi pemerintah. Pada tahun 2009 Menteri Pendidikan Nasional menganugerahi Penghargaan Keaksaraan atas inovasi dan kreatifitas dalam pembelajaran keaksaraan keakraban sosial atau perdamaian tahun 2009. Keakraban sosial di Taman Bunga Teratai dinilai sangat membantu program pemerintah memberantas buta aksara.

“Waktu itu ada orang dari Kementerian Pendidikan yang datang, dia menilai. Akhirnya ditetapkan satu-satunya tempat ibadah yang mendapat penghargaan keaksaraan keakraban sosial, jadi tempat ini diakui mereka mampu merekatkan hubungan umat beragama. Para pengunjung bisa enjoy datang, yang ibadah bisa ibadah, yang rekreasi bisa rekreasi, begitu juga yang belajar, itu kata mereka kategori yang kita dapat,” terangnya.

Ia bertekad akan terus mempertahankan keberadaan Taman Bunga Teratai Dewi Kuan Yin sambil terus mengembangkannya. Harmoni dari ujung kampung Jelitik ini diharapkan bisa menjadi lem perekat kebhinekaan Bangka dan Indonesia.

Penulis : Suta Wijaya Bangka Belitung Eljohnnews

(Tulisan ini diikutsertakan pada lomba karya jurnalistik BNPT 2020)