Kegiatan


Masjid Jami’ dan Klenteng Kong Fuk Miau, Ratusan Tahun Merekat Keharmonisan Masyarakat Muntok

MUNTOK, kota pengasingan tokoh proklamator Bung Karno di Pulau Bangka, tak hanya punya Pesanggrahan Menumbing yang bersejarah. Muntok juga punya Masjid Jami’ dan Klenteng Kong Fuk Miau, dua tempat ibadah yang berdiri berdampingan sejak ratusan tahun lalu. Terletak di Kampung Tanjung, Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tempat ibadah umat Islam dan Konghucu ini menjadi bukti kerukunan masyarakat Muntok.

HUJAN gerimis membasahi Kota Muntok sore itu. Tak banyak masyarakat yang beraktivitas di luar. Termasuk di pusat ekonomi, Pasar Muntok di Kelurahan Tanjung. Beberapa pemilik toko yang umumnya etnis Tionghoa tampak hanya melayani beberapa pembeli beretnis Melayu. Mereka tampak berbincang akrab. Terlihat seperti sudah mengenal dekat. Begitulah “potret” keseharian masyarakat di Pasar Muntok, hidup berdampingan harmonis seperti Masjid Jami’ dan Klenteng Kong Fuk Miau yang didirikan leluhur mereka.

Dilihat dari dekat, Masjid Jami’ dan Klenteng Kong Fuk Miau memang berdampingan. Berada di Jalan Imam Bonjol Kampung Tanjung, Muntok, kedua tempat ibadah ini hanya dipisahkang gang selebar 4 meter. Klenteng Kong Fuk Miau dibangun lebih dulu pada tahun 1820. Sementara berdasarkan prasasti, Masjid Jami’ didirikan 1300 hijriah bertepatan pada 1883 Masehi oleh Muhammad Ali dengan gelar Temenggung Kartanegara II.

Meski sudah tua, kedua bangunan ini masih terawat baik. Klenteng Kong Fuk Miau yang berwarna dominan merah hingga kini masih utuh dan asli. Beberapa bagian bangunan dihiasi ornamen khas Tionghoa seperti lampion dan Naga. Malam hari, halaman depannya yang luas dipakai berbagai pedagang kaki lima.

Begitu juga dengan Masjid Jami’. Bangunan berwarna putih dan hijau terlihat kokoh. Bangunan masjid ditopang 4 tiang penyangga yang melambangkan jumlah sahabat nabi. Dilengkapi 5 pintu yang melambangkan rukun Islam dan 6 tiang penyangga teras masjid yang melambangkan 6 rukun iman.

Harmoni indah dua tempat ibadah dan umatnya ini sudah berjalan panjang. Ketua Masjid Jami’, Fahmi Azwuari mengisahkan, masjid kebanggaan masyarakat Muntok dan Bangka Barat ini dibangun dengan gotong-royong umat muslim dan Tionghoa.

“Jadi dari sejarahnya juga sampai sekarang kerja sama dari masyarakat maupun dari agama lain kebetulan dengan klenteng ini memang sangat erat, jadi saling mendukung sampai sekarang,” ungkapnya.

Bahkan arsitektur Masjid Jami’ juga dipengaruhi oleh gaya bangunan Tionghoa. Hal ini dapat dilihat pada atap bangunan melengkung seperti bangunan masyarakat Tionghoa pada umumnya.

Tak hanya menyumbang tenaga, warga Tionghoa saat itu juga ada yang menyumbang bahan bangunan untuk Masjid Jami’. “Ada kerja sama, bantuan-bantuan dari warga Tionghoa kaya untuk bangunan di belakang masjid, itu bagian bantuan dari mereka,” kisahnya.

Saling tolong-menolong itu berlanjut sampai sekarang. Saat perayaan hari besar muslim, seperti Idul Adha, warga Tionghoa sekitar masjid ikut membantu, salah satunya dalam bentuk fasilitas seperti kursi dan tenda.

“Menurut cerita orang dulu dan dari ketua-ketua sebelumnya, mereka juga ikut membantu walaupun bentuknya bukan kurban, tapi jelas mereka ikut serta dalam rasa simpatik untuk keikutsertaan dalam bermasyarakat beragama ini,” ujar Fahmi.

Dimasa kepemimpinannya sebagai Ketua Masjid periode 2010-2013, warga Tionghoa yang tidak berkecukupan diberikan daging kurban. Komunikasi juga terus dijalin. Jika ada salah satu pihak hendak menyelenggarakan kegiatan, mereka saling memberitahukan agar tidak berbenturan. “Mereka juga mengerti, saling mengerti. Alhamdulillah kita harus saling jaga. Ini memang sudah dari dulu, kita cuma melanjutkan,” ucapnya.

Fahmi menceritakan, sebelum perluasan tahun 2008, bangunan Masjid Jami’ masih kecil. Jadi untuk melaksanakan sholat Idul Fitri dan Idul Adha, sebagian jamaah harus menggunakan halaman depan Klenteng Kong Fuk Miau. Momen-momen itu terekam dalam foto-foto yang tersimpan di pengurus masjid.

“Jadi sebelum-sebelumnya itu, diliat dari foto-foto, sholat Idul Fitri, Idul Adha menghadap ke klenteng, jadi tidak ada masalah, yang penting kita saling memahami,” jelasnya.

Harmoni warga muslim dan Tionghoa ini sudah mendarah daging. Mereka saling percaya satu sama lain. Tak ada rasa saling curiga. Saking percayanya, ada warga Tionghoa yang tak ragu menitipkan anaknya ke warga muslim.

“Cerita dari orang tua dulu, karena di sebelah sini banyak rumah-rumah lama, mereka juga ada anak-anak mereka yang dititipkan ke orang Melayu hingga dibesarkan. Itu saking percayanya orang Tionghoa kepada kita, mendidik anaknya kepada orang Melayu, artinya kepercayaan mereka penuh,” cetusnya.

Fahmi berharap kerukunan ini terus terjaga. Ia berpesan kepada generasi muda Muntok khususnya di sekitar Pasar Muntok untuk melanjutkan harmoni sosial ini karena merupakan warisan sosial dari pendahulu mereka.

“Kita berharap ada semacam pengkaderan dari semua pihak, jangan satu pihak saja, diberitahu sejarahnya bagaimana orang tua dulu menjalankan agama ini, bagaimana caranya hingga rukun baik seperti ini, hubungan dari jaman dulu terjalin dengan baik, kita sama-sama menjaga,” pesannya.

Penulis : ——–AKHMAD DWICAHYO, BABEL POS———-

(Tulisan ini diikutsertakan pada lomba karya jurnalistik BNPT 2020)